
Fenomena kepribadian narsistik kian menguat di era modern yang ditandai budaya pencitraan, media sosial, dan kebutuhan validasi berlebihan. Menjawab tantangan ini, tim peneliti dari Universitas Darussalam (Unida) Gontor menghadirkan pendekatan baru yang memadukan psikologi modern dengan khazanah tasawuf klasik Islam.
Gangguan kepribadian narsistik atau Narcissistic Personality Disorder (NPD) selama ini banyak dibahas dalam ranah psikologi klinis. Namun, pendekatan yang digunakan umumnya bersifat sekuler dan menitikberatkan pada aspek intrapsikis, seperti perbaikan struktur ego dan regulasi emosi, tanpa menyentuh dimensi spiritual dan etika.
Melalui artikel yang terbit pada Desember 2025 di Jurnal Pemikiran Islam, Rizvan Falah Kamil bersama tim peneliti Unida Gontor menawarkan sintesis konseptual antara self-psychology gagasan Heinz Kohut dan maqāmāt tasawuf Syekh Nawawi al-Bantani, ulama Nusantara abad ke-19 yang karyanya masih menjadi rujukan pesantren hingga kini.
Penelitian ini tidak bertujuan merumuskan terapi klinis baru, melainkan membangun dialog konseptual antara psikologi modern dan tasawuf. Dengan pendekatan kualitatif-hermeneutik, peneliti memetakan kesesuaian fungsi antara prinsip-prinsip psikoterapi Kohut—seperti empati, kebijaksanaan, dan fleksibilitas ego—dengan maqāmāt al-Bantani, seperti qana’ah, muhasabah, shuhbah, dan mahabah.
Menurut hasil penelitian, qana’ah berfungsi sebagai mekanisme pengendalian ego yang menekan dorongan superioritas berlebihan. Muhasabah berperan sebagai refleksi diri berkelanjutan yang melemahkan grandiositas. Sementara itu, shuhbah menumbuhkan kesadaran transendental yang mengalihkan orientasi diri dari pencarian pengakuan sosial menuju relasi dengan Tuhan. Puncaknya, mahabah dipahami sebagai mekanisme pembentukan empati—aspek yang menjadi inti terapi NPD dalam psikologi Kohut.

Menariknya, penelitian ini menegaskan bahwa maqāmāt Nawawi al-Bantani tidak dipahami sebagai ajaran normatif atau simbolik semata, melainkan sebagai mekanisme psiko-spiritual terstruktur yang memiliki fungsi sejajar dengan konsep psikoterapi modern. Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa sintesis ini tetap menjaga batas epistemologis antara tasawuf dan psikologi, tanpa klaim efektivitas klinis empiris.
Dalam konteks masyarakat religius seperti Indonesia, temuan ini dinilai relevan untuk memperkaya wacana psikologi kepribadian yang selama ini cenderung terpisah dari dimensi spiritual. Integrasi konseptual ini juga membuka peluang pengembangan pendekatan psikoterapi Islam yang bersifat komplementer, bukan pengganti, terhadap psikologi modern.
Melalui dialog antara pemikiran Heinz Kohut dan tasawuf Nawawi al-Bantani, penelitian ini menunjukkan bahwa khazanah intelektual Islam Nusantara memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam diskursus psikologi kontemporer. Di tengah meningkatnya problem narsisme dan krisis empati, pendekatan lintas disiplin semacam ini menjadi tawaran penting bagi pengembangan ilmu dan kemanusiaan.
Penulis: Rizvan Falah Kamil, M.Ag., Prof. Dr. Nur Hadi Ihsan, MIRKH., Dr. Moh. Isom Mudin, M.Ud.
Link: https://doi.org/10.22373/jpi.v5i2.33013


















