*Oleh: Dio Samudra, M.E. (Dosen Ekonomi Syariah)
Ada satu adegan yang selalu membuat saya berhenti sejenak setiap kali berkunjung ke Pesantren Gontor: seorang santri muda duduk di depan mikrofon, memimpin rapat kerja organisasi pondok dengan wajah serius seolah sedang memegang nasib sebuah kementerian.

Di sisi lain, seorang kiai duduk tenang menatap para santrinya yang datang menghadap, siap menerima arahan. Dua adegan ini, meski terpisah generasi dan suasana, sebenarnya sedang bercerita tentang hal yang sama: bagaimana kepemimpinan itu diwariskan, bukan diajarkan lewat teori di atas kertas.
Kepemimpinan yang Diuji Sejak Dini Di banyak organisasi modern, orang baru dianggap “siap memimpin” setelah bertahun-tahun jenjang karier, sertifikasi, dan pelatihan mahal. Di Gontor, logikanya dibalik. Santri kelas lima atau enam sudah dipercaya menjadi ketua rayon, pengurus organisasi pelajar, bahkan memimpin rapat lintas lembaga seperti yang tampak dalam foto Rapat Lembaga di Pesantren itu. Mereka belum tentu paham teori manajemen, tapi mereka tahu satu hal penting: kalau saya gagal, bukan cuma saya yang menanggung, tapi seluruh amanah yang dititipkan kepada saya. Dalam bahasa manajemen risiko, ini disebut *ownership* rasa memiliki terhadap risiko dan konsekuensi dari keputusan yang diambil. Banyak organisasi besar justru gagal bukan karena kekurangan orang pintar, tapi karena kekurangan orang yang mau bertanggung jawab penuh atas tugasnya. Semua orang sibuk menunjuk, sedikit yang mau memikul. Gontor, dengan caranya yang khas “kadang keras, kadang sederhana” mengajarkan hal itu sejak dini. Slogan “Kiai Gontor tidak pernah tidur” yang sering saya dengar dari alumni bukan sekadar romantisme pesantren, melainkan gambaran nyata tentang budaya kerja yang tidak kenal kata “nanti saja” atau “itu bukan tugas saya”.
Pemimpin yang Hadir, Bukan Sekadar Memberi Instruksi Foto kedua adalah suasana ketika kiai duduk berhadapan langsung dengan para santri yang baru datang menghadap. Tidak ada jarak protokoler yang berlebihan, tidak ada meja besar yang memisahkan “atasan” dan “bawahan”. Yang ada hanya percakapan langsung, tatap muka, mendengarkan. Dalam dunia manajemen risiko modern, kita mengenal istilah *risk culture* budaya yang menentukan apakah masalah dilaporkan sejak dini atau justru disembunyikan sampai membesar menjadi krisis. Budaya semacam ini hanya bisa tumbuh kalau pemimpinnya mau hadir, mau mendengar, dan tidak membuat bawahannya takut untuk jujur. Kiai yang duduk sejajar, mendengarkan santrinya satu per satu, sesungguhnya sedang membangun fondasi itu tanpa perlu menyebutnya dengan istilah akademik apa pun. Bandingkan dengan banyak organisasi yang gagal mendeteksi masalah sejak dini justru karena pemimpinnya terlalu jauh dari lapangan, terlalu sibuk dengan laporan di atas kertas, dan lupa bahwa risiko sesungguhnya sering kali baru terlihat jelas ketika kita mau duduk dan mendengar langsung dari orang-orang di garis depan.
Tanggung Jawab yang Ditanamkan, Bukan Dipaksakan Yang membuat pola asuh kepemimpinan ala pesantren ini menarik secara akademik adalah bagaimana tanggung jawab itu ditanamkan lewat pembiasaan, bukan lewat hukuman semata. Santri yang diberi amanah memimpin rapat tidak sedang menjalani simulasi. Ia benar-benar memimpin, dengan segala risiko salah, malu, atau gagal di depan teman-temannya sendiri. Inilah yang dalam ilmu manajemen kita sebut *experiential learning* belajar dari pengalaman nyata, bukan dari studi kasus di dalam kelas. Risiko kegagalan memang ada, tapi justru di situlah pembelajaran paling berharga terjadi. Anak yang pernah gagal memimpin rapat di usia lima belas tahun, kelak ketika dewasa dan memegang jabatan sesungguhnya, tidak akan kaget menghadapi tekanan serupa. Ia sudah pernah jatuh, dan yang lebih penting, sudah pernah belajar bangun sendiri.
Warisan yang Tak Lekang Zaman Di tengah dunia kerja modern yang sering mengeluhkan generasi muda “kurang inisiatif” atau “gampang menyerah”, pola asuh kepemimpinan ala Gontor ini terasa seperti pengingat lama yang relevan kembali. Bahwa kepemimpinan sejati tidak lahir dari jabatan tinggi atau gelar mentereng, melainkan dari kebiasaan kecil yang diulang terus-menerus: berani memegang amanah, berani hadir mendengarkan, dan berani bertanggung jawab penuh atas apa yang dikerjakan, sekecil apa pun itu. Sebagai dosen, saya percaya cerita seperti ini layak lebih sering diangkat, bukan sekadar sebagai nostalgia santri, tapi sebagai cermin bagi dunia kerja modern. Saya melihatnya sebagai bukti hidup bahwa *ownership*, *risk culture*, dan kepemimpinan yang bertanggung jawab sesungguhnya bisa ditanamkan sejak usia belasan tahun asal ada yang berani memberi amanah, dan ada yang berani menerimanya dengan sepenuh hati. Gontor, lewat foto-foto sederhana seperti rapat kerja dan pertemuan santri dengan kiainya, sesungguhnya sedang mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada ijazah: sikap memimpin dengan tanggung jawab, dan menjalankan tugas semaksimal mungkin bukan karena diawasi, tapi karena sudah menjadi kebiasaan hati. (“Tanggung jawab bukan beban yang dipikul, tapi kebiasaan yang ditanamkan.”)


















