Orang Tua Tidak Selalu Meminta Kita Sukses, Mereka Hanya Ingin Melihat Kita Berusaha

Bagikan

By : Kimjongun ( Muhammad Sholahuddin M.Pd )

Ada masa ketika kita merasa harus menjadi seseorang yang hebat agar bisa membanggakan orang tua. Mendapat nilai tinggi, lulus tepat waktu, mendapatkan pekerjaan yang baik, memiliki penghasilan besar, atau mencapai berbagai pencapaian yang bisa diceritakan kepada orang lain. Kita sering mengira bahwa itulah cara terbaik untuk membalas semua pengorbanan mereka.

Namun, semakin dewasa kita mulai menyadari satu hal: mungkin orang tua tidak pernah meminta kita menjadi sempurna. Mereka hanya ingin melihat kita berusaha.

Sejak kecil, orang tua mungkin tidak selalu mengatakan betapa beratnya perjuangan mereka. Ada ayah yang berangkat bekerja ketika kita masih tidur dan pulang ketika kita sudah terlelap. Ada ibu yang diam-diam mengatur pengeluaran rumah tangga agar kebutuhan pendidikan anak tetap terpenuhi. Ada pula orang tua yang menunda keinginannya sendiri karena lebih memilih memenuhi kebutuhan anak-anaknya.

Semua itu sering kita terima begitu saja ketika masih kecil. Kita menganggap uang untuk sekolah, biaya kuliah, buku, makanan, dan kebutuhan lainnya sebagai sesuatu yang memang seharusnya diberikan oleh orang tua.

Sampai akhirnya kita tumbuh dewasa dan mulai memahami bahwa di balik semua itu ada perjuangan.

Ada keringat yang tidak pernah kita lihat. Ada rasa lelah yang tidak pernah mereka ceritakan. Ada kekhawatiran yang mereka simpan sendiri. Bahkan mungkin ada doa-doa panjang yang mereka panjatkan ketika kita sedang tidur.

Karena itu, ketika kita sedang menjalani pendidikan dan merasa lelah, sebenarnya ada satu alasan sederhana untuk tetap bertahan: ada orang tua yang berharap kita tidak menyerah.

Bukan berarti mereka menuntut kita selalu mendapatkan nilai sempurna. Bukan pula berarti mereka akan kecewa ketika kita mengalami kegagalan. Mereka mungkin hanya ingin mengetahui bahwa kesempatan yang telah diberikan kepada kita benar-benar diperjuangkan.

Kita boleh gagal dalam ujian. Kita boleh mendapatkan nilai yang tidak sesuai harapan. Kita boleh terlambat mencapai target. Kita bahkan boleh merasa bingung menentukan masa depan.

Yang tidak boleh adalah berhenti berusaha hanya karena perjalanan terasa sulit.

Terkadang kita terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Melihat teman yang sudah lulus, mendapatkan pekerjaan, melanjutkan studi, membangun bisnis, atau mencapai berbagai pencapaian. Sementara kita masih berjuang menyelesaikan satu demi satu tugas yang terasa tidak ada habisnya.

Pada titik itu, kita mungkin merasa tertinggal.

Padahal, setiap orang memiliki waktunya masing-masing.

Tidak semua anak harus sukses pada usia yang sama. Tidak semua mahasiswa harus memiliki perjalanan pendidikan yang sama. Tidak semua orang harus mencapai impiannya dengan cara yang sama.

Yang terpenting adalah terus bergerak.

Mungkin hari ini kita hanya mampu menyelesaikan satu tugas. Mungkin hari ini kita hanya mampu membaca beberapa halaman buku. Mungkin hari ini kita hanya mampu bertahan dari rasa lelah dan mengatakan kepada diri sendiri, “Besok aku akan mencoba lagi.”

Itu pun sudah merupakan bentuk perjuangan.

Jangan pernah meremehkan langkah kecil. Karena keberhasilan besar sering kali dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali.

Dan ketika suatu hari nanti kita berhasil mencapai sesuatu, mungkin hal pertama yang terlintas dalam pikiran bukanlah gelar yang kita dapatkan, bukan pekerjaan yang kita miliki, atau berapa banyak uang yang berhasil kita kumpulkan.

Mungkin yang muncul justru wajah orang tua.

Wajah yang selama ini menunggu. Wajah yang selalu mendoakan. Wajah yang mungkin tidak pernah menuntut banyak hal dari kita.

Kemudian kita akan menyadari bahwa ternyata perjalanan panjang ini bukan hanya tentang diri kita.

Ada seseorang yang ikut berharap di setiap langkah kita.

Ada orang tua yang mungkin hanya ingin melihat anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik daripada dirinya.

Maka, untuk kamu yang saat ini sedang kuliah, sedang menyelesaikan skripsi, tesis, disertasi, mencari pekerjaan, membangun usaha, atau sedang berjuang mengejar cita-cita, jangan terlalu keras kepada dirimu sendiri.

Kalau hari ini belum berhasil, tidak apa-apa.

Kalau hari ini masih gagal, tidak apa-apa.

Kalau perjalananmu lebih lambat daripada orang lain, juga tidak apa-apa.

Selama kamu masih mau belajar, masih mau mencoba, dan masih mau memperbaiki diri, sebenarnya kamu sedang memberikan sesuatu yang sangat berarti kepada orang tuamu: sebuah bukti bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia.

Suatu hari nanti, mungkin orang tua kita tidak lagi bertanya tentang berapa nilai yang kita dapatkan.

Mereka mungkin hanya bertanya, “Kamu baik-baik saja?”

Dan saat itu kita akan memahami bahwa bagi mereka, keberhasilan anak bukan hanya tentang seberapa tinggi pencapaiannya, tetapi tentang apakah anaknya mampu menjalani hidup dengan baik, jujur, bertanggung jawab, dan tidak mudah menyerah.

Jadi, jika hari ini kamu merasa belum menjadi anak yang membanggakan, jangan langsung menganggap dirimu gagal.

Teruslah berusaha.

Sebab membanggakan orang tua tidak selalu harus dengan menjadi yang terbaik. Terkadang, membanggakan mereka cukup dengan menjadi seseorang yang tidak menyerah ketika hidup sedang tidak mudah.

Dan mungkin, ketika nanti kita menoleh ke belakang, kita akan tersenyum dan berkata kepada diri sendiri:

“Ternyata aku bisa sampai sejauh ini karena dulu aku memilih untuk terus berusaha.”

Untuk orang tua yang selalu mendoakan dari jauh maupun dekat, semoga suatu hari nanti setiap lelah yang mereka sembunyikan dibayar dengan kebahagiaan melihat anaknya tumbuh menjadi manusia yang baik.

Karena pada akhirnya, orang tua tidak selalu meminta kita sukses.

Mereka hanya ingin melihat kita berusaha, bertahan, dan menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari.

Image: Portrait of smiling villagers in Rumpin, West Java, depicting rural life and tradition by Tom Fisk from pexels

Dapatkan Promo spesial sekarang

Bagikan

Kirim Artikel

Ingin menulis di Inspiring Menulis? Berikut cara mudah untuk mengirim artikel.

Masuk | Daftar

Masuk atau daftar dulu biar bisa komen, bikin konten dan atur notifikasi konten favoritmu. Yuk!

Atau Gunakan