Apakah Air Musyammas Pasti Makruh untuk Bersuci?

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

 6,037 total views,  1 views today


Di dalam beberapa kitab fiqih, kita akan menemukan bahwa salah satu air yang makruh digunakan untuk bersuci adalah air musyammas; yakni air yang terjemur di bawah terik matahari. Hal ini berdasarkan dari
atsar yang diriwayatkan oleh Jabir r.a. bahwa Sayyidah Aisyah r.a., suatu waktu pernah menjemur air di bawah terik matahari, kemudian beliau ditegur oleh Rasulullah SAW, lalu bersabda:

لا تفعلي يا حميراء فإنه يورث البرص

“Jangan lakukan wahai Aisyah, karenanya (air yang dijemur) dapat menyebabkan kusta”.

Namun hadits ini dianggap bermasalah oleh sebagian ulama’, termasuk Imam Nawawi sebagai ulama’ syafi’iyah juga munghukumi bahwa air musyammas tidak ada kemakruhan secara mutlaq dan boleh digunakan untuk bersuci (lihat Raudhatut Thalibin, Juz: 1, hal: 11). Namun, ulama’ syafi’iyyah yang lain menyatakan bahwa air musyammas tetap makruh sebagai qoul mu’tamad dalam madzhab syafi’i dengan beberapa syarat yang harus terpenuhi sehingga air tersebut dihukumi makruh.

Syarat-syarat tersebut tertulis secara jelas dalam kitab At-Taqrirat As-Sadidah fil Masail Al-Mufidah karya Syeikh Hasan bin Ahmad bin Muhammad Al-Kaff.

قَدْ كَرّهوا مشمسا تأثرا # حَالَةَ تأثير لحَيٍّ قُرّرَا

إنْ في إناء منطبع لا نقدي # بوقت حرّ لا بوقت برد

ببدن ببلد الحر ولم # يكن معينا ولم يخش الألم

Syarat-syarat tersebut ialah:

  1. Sebab panasnya karena terik matahari, bukan yang lain;
  2. Menjadi makruh saat air masih dalam keadaan panas, dan hilang kemakruhannya saat air sudah menjadi dingin;
  3. Digunakan untuk mensucikan yang hidup (bukan orang mati);
  4. Wadah untuk menampung air terbuat dari logam yang dipatri (kecual emas dan perak);
  5. Digunakan untuk mensucikan badan (bukan pakaian, dsb);
  6. Menggunakannya di negeri yang memiliki suhu panas di atas rata-rata; seperti Hijaz dan Hadramaut;
  7. Ada pilihan lain (selain air musyammas) untuk digunakan bersuci;
  8. Apabila khawatir akan menimbulkan penyakit dalam penggunaannya.

Dari syarat-syarat tersebut, hal itu mengindikasikan bahwa pendapat Imam Nawawi mengenai ketiadaan hukum makruh secara mutlak sangatlah beralasan. Apalagi bagi kita yang tinggal di negeri tropis seperti Indonesia, mengingat suhu dan cuaca yang tidak terlalu ekstrem sebagaimana beberapa negeri di kawasan Timur Tengah. Sehingga, kita bisa menarik kesimpulan bahwa alasan utama kemakruhannya adalah kemudharatan yang timbul disebabkan penggunaannya.

sumber gambar: https://harakahdaily.net/index.php/2021/05/02/adakah-makruh-guna-air-water-heater-atau-paip-panas/

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Berita Populer

Lentera Hakiki – Inspiring Band

 4,878 total views,  222 views today

 4,878 total views,  222 views today Terimalah persembahan dari Inspiring Band Album

Fifth Grade Teacher

 4,372 total views,  227 views today

 4,372 total views,  227 views today Katanya, tahun kelima itu berat Nyatanya,

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

Kirim Artikel

Ingin menulis di Inspiring Menulis? Berikut cara mudah untuk mengirim artikel.

Berita terbaru

Fifth Grade Teacher

 4,373 total views,  228 views today

 4,373 total views,  228 views today Katanya, tahun kelima itu berat Nyatanya,

Lentera Hakiki – Inspiring Band

 4,879 total views,  223 views today

 4,879 total views,  223 views today Terimalah persembahan dari Inspiring Band Album

Kayu yang Ideal

 8,041 total views,  112 views today

 8,041 total views,  112 views today Diri ini bagaikan seorang tukang kayu,

Asiyah, Ra, Ka, dan Ha

 14,219 total views,  117 views today

 14,219 total views,  117 views today Mesir, pasca jatuhnya raja Akhenaten. Asiyah

Tekad

 13,590 total views,  112 views today

 13,590 total views,  112 views today Kubuat celah pada sebuah rasa Kubuat

Obat overthinking – Inspiring Cast

 15,535 total views,  113 views today

 15,535 total views,  113 views today Cuplikan spotify Disampaikan oleh Septiadi Akbar

Masuk | Daftar

Masuk atau daftar dulu biar bisa komen, bikin konten dan atur notifikasi konten favoritmu. Yuk!

Atau Gunakan