Satire Kebiasaan Masyarakat Dalam Film ‘Tilik’

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

 409 total views,  2 views today

Tepat pada peringatan Hari Kemerdekaan Negara Republik Indonesia ke-75, jagat Youtube dihebohkan dengan unggahan yang sontak menjadi viral. Sebuah film yang menjadi refleksi kebiasaan masyarakat Indonesia baik dalam bersosial maupun mencari berita. ‘Tilik’, sebuah drama miniatur kehidupan sekaligus mensatire budaya kurang terpuji masyarakat, di antaranya ‘ghibah’ dan percaya terhadap hoax.

Melihat kondisi perkembangan informasi dan teknologi yang pesat, sangat rentan terjadi kekacauan di masyarakat yang diakibatkan oleh ketidaksiapan masyarakat menerima perubahan, apalagi tanpa dibekali pengetahuan untuk menyaringnya. Berdasarkan Education Index yang dikeluarkan oleh Human Development Reports, pada 2017, Indonesia ada di posisi ketujuh di Asean dengan skor 0,622. Skor tertinggi diraih Singapura yaitu sebesar 0,832. Peringkat kedua ditempati oleh Malaysia 0,719 dan disusul oleh Brunei Darussalam 0,704. Pada posisi keempat ada Thailand dan Filipina, keduanya sama-sama memiliki skor 0,661.

Tingkat kualitas pendidikan yang rendah mengakibatkan lemahnya semangat masyarakat untuk membaca dan mencermati keadaan sekitar secara kritis. Ambil saja contoh, seorang dewasa yang buta huruf dan diberikan koran berita di dalamnya, maka ia akan cenderung memilih untuk mendengar berita dari ucapan orang lain ketimbang membaaca langsung teks berita. Tapi tidak semua kerugian ditanggung oleh mereka yang berpendidikan rendah, bahkan yang berpendidikan tinggi pun bisa rugi akibat termakan oleh berita hoax.

Standar selamat dari berita hoax adalah kebijakan dalam berpikir dan menyampaikan. Seseorang yang bertitel doktor pun bisa menjadi korban hoax, di antara faktornya adalah emosional dalam menanggapi kasus tidak stabil dan condong mengafirmasi berita yang tersebar.

Lantas apakah objek dari evaluasi masyarakat hanya ditujukan kepada penerima berita ? jawabannya tentu tidak. Karena yang sangat bertanggung jawab atas apa yang tersebar adalah si penyebar tersebut. Dewasa ini media sangat mudah meberitakan suatu kasus, bahkan tidak hanya dipublikasi oleh pemilik otoritas berita, individual atau personal dapat menyampaikan berita melalui dunia maya.

Sikap bijak dalam menyampaikan berita dan menerima berita haruslah diutamakan dari pada isi berita tersebut. Bayangkan apa jadinya kalau berita bohong yang terlanjur tersebar di masyarakat dan dipercaya menjadi nomor satu di daftar ‘highlight’, tentu patokan dari keabsahan berita adalah bijak dalam berita bukan trendingnya.

Sejarah Ghibah Pada Masa Rasulullah Saw.

Film yang disutradarai oleh Wahyu Agung Prasetyo ini juga memberikan satire sekaligus pesan untuk masyarakat yang hobi ‘ghibah’ atau gossip. Sejatinya perbuatan ‘ghibah’ merupakan larangan langsung secara syariat Islam, bahkan hal ini disampaikan oleh Rasulullah.

Menurut riwayat, Pada waktu itu, Rasulullah Saw meminta Salman untuk pergi mengambil makanan dari Baitul Mal untuk diberikan kepada dua orang yang datang kepada baginda Nabi Saw. Pengurus Baitul Mal, Usamah bin Zaid, berkata bahwa dia tidak mempunyai apa-apa. Ketika melihat dan mendengar kejadian ini, salah satu dari dua sahabat Nabi tersebut berkata pada temannya, “Dia (Usamah) pelit” dan tentang Salman, mereka berberkata “Kalau seandainya dia disuruh untuk mengeringkan sumur yang penuh dengan air, maka dia akan melakukannya.”Setelah itu, dua sahabat Nabi saw pergi untuk mengintai apa yang sedang dilakukan oleh Usamah.Ketika mereka datang ke sisi Rasul, beliau bersabda bahwa “Aku mencium bau daging dari mulut kalian.”Mereka berdua berkata, “Sesungguhnya kami, hari ini, benar-benar tidak memakan daging, wahai Rasulullah.”Rasul saw bersabda, “Iya! Kalian telah memakan daging Salman dan Usamah.

Sedangkan menurut Imam Nawawi dalam kitab Riyadlus Shalihin, ada enam ‘ghibah’ yang diperbolehkan :1) ghibah uuntuk mengadukan kedzaliman, 2) ghibah untuk meminta tolong, 3) ghibah untuk meminta fatwa, 4) ghibah untuk memperingatkan, 5) ghibah terhadap orang yang terang-terangan berbuat kefasikan, dan 6) ghibah untuk menyebut ciri seseorang, bukan untuk menjelekkan.

Buah Pahit Ghibah dan Hoax

Riwayat sebelumnya secara eksplisit mengibaratkan mereka yang ‘ghibah’ yakni sama halnya memakan bangkai saudaranya yang dighibahi. Bukan tanpa sebab Rasul melarang ‘ghibah’, coba perhatikan dampak sosial apabila seseorang menggunjing temannya dari belakang dan tersebar dari si fulan ke fulan lainnya sampai terdengar oleh objek yang dighibahi, betapa sakit hati dan akan merenggangkan ukhuwah.
Tidak jauh beda dengan ghibah, hoax juga memiliki dampak negatif bagi masyarakat, bahkan bisa mengakibatkan keresahan di kelompok masyarakat. Contoh hoax makanan yang mudah terbakar terindikasi memiliki zat lilin pada awal tahun 2018. Tentu masyarakat awam mudah percaya dan akan merasa khawatir. Di sinilah fungsi akal manusia harus dijalankan. Bijak dalam menyebarkan dan mengolah berita adalah jalan tengah meredam permasalahan.

Kembali mengulas balik pesan dari film ‘Tilik’, tentu tidak hanya satire terhadap budaya buruk di masyarakat, tapi menyadarkan masyarakat bahwasanya hidup bersosial itu ‘guyup rukun’ dan peka terhadap sesama. Seperti halnya adegan tilik atau mengunjungi sekaligus judul film tersebut, para warga berbondong-bondong untuk melihat kondisi bu Lurah walaupun harus menempuh jarak yang jauh.

Dalam tulisan ini saya sengaja mengambil contoh dari film ‘Tilik’, bukan berarti saya mempromosikan secara komersial. Saya hanya menyampaikan pesan positif yang ada di film ini serta layak diapresiasi dan diimplementasikan di kehidupan sosial yang cerdas dan bijak.

Penulis: Abdurrahman Ad-Dakhil

Uin Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Referensi

KISAH–Pergunjingan di Zaman Nabi


https://www.kompas.com/hype/read/2020/08/24/192726466/film-pendek-tilik-tercipta-dari-sebuah-obrolan-di-angkringan-di-yogyakarta
https://news.detik.com/berita/d-4350509/kominfo-rilis-10-hoax-paling-berdampak-di-2018-ratna-sarumpaet-nomor-1/2
https://tirto.id/indeks-pendidikan-indonesia-rendah-daya-saing-pun-lemah-dnvR
*sumber foto : www.facebook.com

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Berita Populer

Berfikir Kritis

 4,139 total views,  55 views today

 4,139 total views,  55 views today Manusia tercipta untuk hidup Di bumi

Ku Jawab dengan Bukti

 2,159 total views,  55 views today

 2,159 total views,  55 views today Inspiring Menulis – Saat ayam berkokok,

Kirim Artikel

Ingin menulis di Inspiring Menulis? Berikut cara mudah untuk mengirim artikel.

Berita terbaru

Ku Jawab dengan Bukti

 2,160 total views,  56 views today

 2,160 total views,  56 views today Inspiring Menulis – Saat ayam berkokok,

Berfikir Kritis

 4,140 total views,  56 views today

 4,140 total views,  56 views today Manusia tercipta untuk hidup Di bumi

Merdeka Indonesiaku

 5,483 total views,  29 views today

 5,483 total views,  29 views today Indonesia… Demikian persona menyebutnya Janabijana indah

Puisi Tentang kami

 5,960 total views,  28 views today

 5,960 total views,  28 views today Aku, kau menjadi kita Kita dan

Masuk | Daftar

Masuk atau daftar dulu biar bisa komen, bikin konten dan atur notifikasi konten favoritmu. Yuk!

Atau Gunakan